Gadneh's Blog

Syarat Beriman Saling Mencintai

MEMAHAMI BID’AH & MEMURNIKAN KETAATAN

MEMAHAMI BID’AH & MEMURNIKAN KETAATAN DARI KACAMATA AWAM

Sebelum terlalu jauh, mari kita simpulkan terlebih dulu makna Bid’ah tersebut:

alam_jin_101_333cr

DEFINISI SECARA ISTILAH

Seperti definisi yang dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah:

عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ

Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala

 DEFINISI SECARA DALIL [HADITS]

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan kelihatan begitu marah, seolah-olah beliau adalah seorang panglima yang meneriaki pasukan ‘Hati-hati dengan serangan musuh di waktu pagi dan waktu sore’. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini. [Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya]. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)

Diriwayatkan dari Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut).” Lalu ada yang mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا

“Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

PERKATAAN SAHABAT

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ

“Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya tsiqoh/terpercaya)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

SEKARANG MARI SAKSIKAN DI SEKELILING KITA

Penulis tidak akan memberikan contoh dalam Ritual – ritual yang sering kita jumpai, penulis hanya mengajak / melirik / memahami ritual (amalan yang sering dijumpai di tengah-tengah kita) dalam hal ini penulis mengkategorikan sebagai SYUBHAT atau Syubuhat, atau Subhat merupakan istilah di dalam Islam yang menyatakan tentang keadaan yang samar tentang kehalalan atau keharaman dari sesuatu. Syubhatjuga dapat merujuk kepada sebuah keadaan kerancuan berpikir dalam memahami sesuatu hal, yang mengakibatkan sesuatu yang salah terlihat benar atau sebaliknya. Dalam permasalahan kontemporer seringkali umat yang awam menghadapi permasalahan yang belum jelas dan meragukan sehingga dibutuhkan keterangan atau penelitian lebih lanjut, syariat Islam menuntut segala sesuatu dilakukan atas dasar keyakinan bukan keragu-raguan. Sering kali dibutuhkan fatwa dan ijtihad ulama untuk menentukan status hukumnya.

Gambaran Penulis SANGAT SEDERHANA SEKALI, bahwa dalam melaksanakan Ibadah, kita sepakat selama itu ada Tuntunanya (Dalil / Anjuran secara syariat) kita laksanakan. Dan ketika ada Adat / Tradisi “ISLAMI” yang berkembang umum, bukan berarti kita harus TAAT / TIDAK TAAT / MELANGGAR ATURAN TRADISI “ISLAMI” tersebut (seharusnya: adakah dalilnya sesuai yang di contohkan Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wasalam / Para Sahabat dalam hal ini ????)

Dalam mengamalkan ibadah didalam Islam tidak di butuhkan Ritual yang sifatnya memberatkan (dapat di bilang UPACARA KEAGAMAAN dalam istilahnya) tidak juga di butuhkan MEDIA KEBENDAAN… Media “Ritual” dalam Islam adalah “Shalat 5 Waktu” tidak butuh Patung, Buah, Bunga, Dupa dan lain sebagainya.

Penjelasan “Yang Sifatnya Memberatkan” misal:

Dalam Sholat, Islam tidak ada tuntunan memakai media bunga, dupa, BATU (SEPERTI SYIAH) cukup dengan Sempurnakan Wudhu – menggunakan air bersih, dalam keadaan suci diri, pakaian bersih alias tidak najis, emnghadap kiblat. – jika saja hal ini dilihat seperti halnya kaum musyrikin, ibadah mereka SUNGGUH berat, mereka (Musyrikin) menggunakan media Bunga, dupa untuk melaksanakan setiap ibadahnya, dibutuhkan MATERI (Uang) dalam mendapatkan media terebut, jika dihitung, rata2 mereka membutuhkan 30rb/hari untuk melaksanakan ritual ibadahnya. Hanya di Islam, semuanya Gratis dalam beribadah…. (TAPI MEMANG BERAT MENJALANKANNYA)

Penjelasan “Yang sifatnya Upacara” misal:

Bisa kita lihat, sebelum bayi lahir, adanya Ritual (Upacara) Tingkepan, Mitoni dan lain sebagainya

Begitu juga ketika bayi terlahir: Mengubur Ari-ari (dengan ritual2nya), Brokohan, sepasaran, puputan, selapanan (35hr setelah kelahiran bayi) dan lain sebagainya

YANG DI KENAL DALAM ISLAM (SESUAI SUNNAH) ADALAH “AQIQAH”: Bagi Orang Tua yang Mampu (Tidak menjadi beban seperti adat / tradisi diatas)

Ketika Ritual Pernikahan : Siraman, Ngidak Endhok (Injak Telur) dan lain sebagainya.

Ketika Meninggal : (kita semua pada tahu, dalam hal ini) cukup kiranya memahami sendiri dari kacamata “awam” seperti penulis maksudkan.

Islam itu MUDAH untuk semua MANUSIA, tidak ada beban apapun dalam urusan ibadah, manusia (disini penulis tulis manusia, bukan hanya berlaku buat umat islam saja / muslim ya) sesuai perintah yang ada dalam Al quran, bahwasanya, Allah Subhanahu wata’alaa berfirman:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah dengn MEMURNIKAN ketaatan kepada-Nya, dalam menjlankan Agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan Shalat dan menunaikan Zakat, dan demikianlah agama yang lurus” (Albayyinah: 5)

Dalam Ayat lainnya :

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik) dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) :”kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya, sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar”. (Az Zumar: 3)

MARI MURNIKAN ISLAM SESUAI FIRMAN DIATAS ini sesuai apa yang di anjurkan syariat (Sunnah maupun sesuai Al quran) terlepas siapa Saya, Kamu, Anda dan Kalian, apakah kamu mengaku Muhammadiyah, NU, Aswaja, Salafi, Wahaby, Al –Irsyad dan lain sebagainya (Kecuali Syiah: kembalilah engkau wahai pengikut syiah)

Sebenarnya Mudah, hanya saja, kitalah yang menjadikan sulit.

Wallahua’lam bishawab

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”

Jika ada kesalahan / kekurangan mohon dikoreksi

*Kacamata awam : pendapat penulis semata yang telah disesuaikan

**Bahan tulisan: di ambil dari berbagai artikel

 

29 April 2016 - Posted by | Dunia Islam

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: