Gadneh's Blog

Syarat Beriman Saling Mencintai

Islam “Gado Gado” Nusantara


War Keyboard Wahabi vs Nusantara. Akhir2 ini sering terjadi khususnya di media sosial (Medsos) sering kita temui, War Keyboard (Perang Urat Syaraf) terutama dari kalangan Kontra Nusantara vs PRO Islam Nusantara.

Ketika ada sebuah artikel, status yang berhubungan dengan apa yang kita kenal dengan istilah BID’AH, INGAT; jangan sekali kali anda menulis / berkata bid’ah, sebab anda akan segera di labeli ssbagai Wahabi haha (Kidding).

Mereka kebakaran jenggot, ketika membaca BAB “Bid’ah” karena pada dasarnya Islam Nusantara tidak rela Keislamannya di Murnikan (sesuai syariat islam yang kaffah) diusik dan tradisi kuno (nenek moyangnya) di hilangkan. Makanya Islam dianggap Agama Impor dari Arab.

Sekali lagi oleh karena itu hati-hatilah dalam menulis / memperingatkan Bab Bid’ah kepada mereka (red; Islam Nusantara)

Mari kita telusuri, mengapa anggapan saya “Islam Gado Gado” yang ramai di sosmed penyebabnya karena campur aduk Islam dan Tradisi Nusantara (Nenek Moyang) siapa saja penulis maksud (khususnya) yang termasuk dalam “Gado Gado” Islam Nusantara tersebut:

  Islam Nusantara[/caption] 

1. Islam Abangan 

Abangan adalah sebutan untuk golongan penduduk Jawa Muslim yang mempraktikkan islam dalam versi yang lebih sinkretis bila dibandingkan dengan golongan santri yang lebih ortodoks. Istilah ini, yang berasal dari kata bahasa jawa yang berarti merah, pertama kali digunakakan oleh Clifford Geertz, namun saat ini maknanya telah bergeser. Abangan cenderung mengikuti sistem kepercayaan lokal yang disebut adat daripada hukum Islam murni (syariah). Dalam sistem kepercayaan tersebut terdapat tradisi-tradisi Hindu, Budha, dan Animisme. Namun beberapa sarjana berpendapat bahwa apa yang secara klasik dianggap bentuk varian Islam di Indonesia, seringkali merupakan bagian dari agama itu sendiri di negara lain. Sebagai contoh, Martin van Bruinessen mencatat adanya kesamaan antara adat dan praktik yang dilakukan dahulu kala di kalangan umat Islam di Mesir.

2. Islam Kejawen 
Kejawen (bhs jawa: Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. Kejawen hakikatnya adalah suatu filsafat di mana keberadaanya ada sejak orang jawa itu ada. Hal tersebut dapat dilihat dari ajarannya yang universal dan selalu melekat berdampingan dengan agama yang dianut pada zamannya. Kitab-kitab dan naskah kuno Kejawen tidak menegaskan ajarannya sebagai sebuah agama meskipun memiliki laku. Kejawen juga tidak dapat dilepaskan dari agama yang dianut karena filsafat Kejawen dilandaskankan pada ajaran agama yang dianut oleh filsuf Jawa.

Sejak dulu, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan : Sangkan Paraning Dumadhi (lit. “Dari mana datang dan kembalinya hamba tuhan”) dan membentuk insan se-iya se-kata dengan tuhannya : Manunggaling Kawula lan Gusthi (lit. “Bersatunya Hamba dan Tuhan”). Dari kemanunggalan itu, ajaran Kejawen memiliki misi sebagai berikut:
Mamayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi)
Mamayu Hayuning Kaluwarga (sebagai rahmat bagi keluarga)

Mamayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia)

Mamayu Hayuning Bhuwana (sebagai rahmat bagi alam semesta)

berbeda dengan kaum abangan kaum kejawen relatif taat dengan agamanya, dengan menjauhi larangan agamanya dan melaksanakan perintah agamanya namun tetap menjaga jatidirinya sebagai orang pribumi, karena ajaran filsafat kejawen memang mendorong untuk taat terhadap tuhannya. jadi tidak mengherankan jika ada banyak aliran filsafat kejawen menurut agamanya yang dianut seperti : Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Kristen Kejawen, Budha Kejawen. Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan “ibadah”). Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat dan menekankan pada konsep “keseimbangan”. Sifat Kejawen yang demikian memiliki kemiripan dengan Konfusianisme (bukan dalam konteks ajarannya). Penganut Kejawen hampir tidak pernah mengadakan kegiatan perluasan ajaran, tetapi melakukan pembinaan secara rutin.

Simbol-simbol “laku” berupa perangkat adat asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Simbol-simbol itu menampakan kewingitan (wibawa magis) sehingga banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) yang dengan mudah memanfaatkan kejawen dengan praktik klenik dan perdukunan yang padahal hal tersebut tidak pernah ada dalam ajaran filsafat kejawen.

Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Budha, Islam, maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman.

DIANTARA RITUAL ADAT (Hari Penting) 

Sultan Agung Mataram dianggap sebagai filsuf peletak pondasi Kejawen Muslim yang kemudian sangat mempengaruhi upacara-upacara penting terutama yang paling nampak adalah penanggalan dalam menentukan hari-hari penting. Hari-hari penting kejawen tidak lepas dari “Kelahiran – Pernikahan – Mangkat” (kematian), yang ketiganya adalah kehidupan dalam tradisi Jawa. Orang Jawa akan mendapatkan nama pada ketiga peristiwa tersebut, yaitu nama saat kelahiran, nama saat pernikahan, nama saat mangkat (nama kematian dengan menambahkan “bin”/ “binti” nama orang tua dibelakang nama kelahiran). Semua hari-hari penting itu ditetapkan sesuai Kalender Jawa yang memiliki Primbon sebagai aturan-aturan dalam menentukan hari penting dan tata caranya. Berikut adalah hari-hari penting dalam Kejawen :
Suran (Tahun Baru 1 Sura).
Sepasaran (upacara kelahiran) dan Aqiqah bagi muslim.

Mantennan (Pernikahan dengan segala upacaranya).

Mangkat (Upacara Kematian) – Mengirim Do’a (Kanduri, Wirid, Ngaji) 7 Hari, 40 Hari, 100 Hari, 1000 Hari, 3000 Hari.

Megeng Pasa – Tanggal 28 dan 29 Bulan Ruwah (Bulan Arwah) Yang digunakan untuk mengirim Do’a kepada yang telah mangkat (berangkat) terlebih dahulu, juga waktu Munjung (mengirim makanan lengkap nasi dan lauk kepada orang yang dituakan dalam keluarga) untuk mengikat silaturahmi.

Megeng Sawal – Tanggal 29 dan 30 Bulan Pasa Yang digunakan untuk mengirim Do’a kepada yang telah mangkat (berangkat) terlebih dahulu, juga waktu Munjung (mengirim makanan lengkap nasi dan lauk kepada orang yang dituakan dalam keluarga) untuk mengikat silaturahmi bagi yang tidak ada kesempatan pada Megeng Pasa.

Riadi Kupat (Hari Raya Kupat) – Tanggal 3, 4 dan 5 Bulan Sawal (Bagi orang tua yang ditinggalkan anaknya sebelum menikah).

Karena filsafat kejawen juga beragama, hari besar agama juga merupakan hari penting kejawen. Berikut ini adalah beberapa hari penting tambahan untuk kejawen muslim :

Hari Raya Idul Fitri

Hari Raya Idul Adha.

Hari Raya Jum’at.

Muludan (Maulid Kanjeng Nabi Muhammad, S.A.W.)

Sekaten (Syahadatain)

Para penganut kejawen sangat menyukai berpuasa dalam ajaran islam karena dianggap sama dengan ajaran leluhurnya selain juga tafakur yang dianggap sama dengan bertapa.

Pasa Weton – berpuasa pada hari kelahiranya sesuai penanggalan jawa.
Pasa Sekeman – Puasa pada hari senin dan kamis.

Pasa Wulan – Puasa pada setiap tanggal 13, 14, dan 15 pada setiap bulan kalender jawa.

Pasa Dawud – Puasa selang-seling, sehari puasa-sehari tidak.

Pasa Ruwah – Puasa pada hari-hari bulan Ruwah (Bulan Arwah).

Pasa Sawal – Puasa enam hari pada bulan Sawal kecuali tanggal 1 Sawal.

Pasa Apit Kayu – Puasa 10 hari pertama pada bulan ke-12 kalender jawa.

Pasa Sura – Puasa pada tanggal 9 dan 10 bulan Sura.

Selain puasa diatas kejawen juga memiliki puasa biasanya untuk menggambarkan kezuhudan (kesungguhan) dalam mencapai keinginan, jenis puasa tersebut adalah sebagai berikut :

Pasa Mutih – puasa ini dilakukan dengan jalan hanya boleh makan nasi putih, tanpa garam dan lauk pauk atau makanan kecil dan lain-lain, serta minumnya juga air putih.
Pasa Patigeni – puasa tidak boleh makan, minum dan tidur serta hanya boleh dikamar saja tanpa disinari cahaya lampu.

Pasa Ngebleng – puasa tidak boleh makan dan minum, tidak boleh keluar kamar, boleh keluar sekedar tetapi sekedar buang hajat dan boleh tidur tetapi sebentar saja.

Pasa Ngalong – puasa tidak makan dan minum tetapi boleh tidur sebentar saja dan boleh pergi.

Pasa Ngrowot – puasa yang tidak boleh makan nasi dan hanya boleh makan buah-buahan atau sayur-sayuran saja.
KITAB SUCI KEJAWEN 

Kejawen tidak memiliki Kitab Suci, tetapi orang jawa memiliki bahasa SANDI yang dilambangkan dan disiratkan dalam semua sendi kehidupannya dan mempercayai ajaran-ajaran Kejawen tertuang di dalamnya tanpa mengalami perubahan sedikitpun karena memiliki pakem (aturan yang dijaga ketat), kesemuanya merupakan ajaran yang tersirat untuk membentuk laku utama yaitu Tata Krama (Aturan Hidup Yang Luhur) untuk membentuk orang jawa yang hanjawani (memiliki akhlak terpuji), hal-hal tersebut terutama banyak tertuang dalam karya tulis sebagai berikut :

Kakawin (Sastra Kuna) – merupakan kitab sastra metrun kuna (lama) berisi wejangan (nasihat) berupa ajaran yang tersirat dalam kisah perjalanan yang berjumlah 5 kitab, ditulis menggunakan Aksara Jawa Kuno dan Bahasa Jawa Kuno

Babad (Sejarah-Sejarah) – merupakan kitab yang menceritakan sejarah nusantara berjumlah lebih dari 15 kitab, ditulis menggunakan Aksara Jawa Kuno dan Bahasa Jawa Kuno serta Aksara Jawa dan Bahasa Jawa

Serat (Sastra Baru) – merupakan kitab sastra metrum anyar (baru) berisi wejangan (nasihat) berupa ajaran yang tersirat dalam kisah perjalanan yang terdiri lebih dari 82 kitab, ditulis menggunakan Aksara Jawa dan Bahasa Jawa beberapa ditulis menggunakan Huruf Pegon

Suluk (Jalan Sepiritual) – merupakan kitab tata cara menempuh jalan supranatural untuk membentuk pribadi hanjawani yang luhur dan dipercaya siapa saja yang mengalami kesempurnaan akan memperoleh kekuatan supranatural yang berjumlah lebih dari 35 kitab, ditulis menggunakan Aksara Jawa dan Bahasa Jawa beberapa ditulis menggunakan Huruf Pegon

Kidungan (Do’a-Do’a) – sekumpulan do’a-do’a atau mantra-mantra yang dibaca dengan nada khas, sama seperti halnya do’a lain ditujukan kepada tuhan bagi pemeluknya masing-masing yang berjumlah 7 kitab, ditulis menggunakan Aksara Jawa dan Bahasa Jawa

Primbon (Ramalan-Ramalan) – berupa kitab untuk membaca gelagat alam semesta untuk memprediksi kejadian. ditulis menggunakan Aksara Jawa dan Bahasa Jawa

Piwulang Kautaman (Ajaran Utama) – berupa kitab yang terdiri dari Pituduh (Perintah) dan Wewaler (Larangan) untuk membentuk pribadi yang hanjawani, ditulis menggunakan Aksara Jawa dan Bahasa Jawa

Naskah-naskah diatas mencakup seluruh sendi kehidupan orang Jawa dari kelahiran sampai kematian, dari resep makanan kuno sampai asmaragama (kamasutra), dan ada ribuan naskah lainya yang menyiratkan kitab-kitab utama di atas dalam bentuk karya tulis, biasanya dalam bentuk ajaran nasihat, falsafah, kaweruh (pengetahuan), dan sebagainya.
3. Islam (Agama) Kapitayan 

Masyarakat kita dulu sudah mengenal konsep ke-Tuhan-an (beragama), yaitu agama Kapitayan, bukan sekedar animisme. Meskipun secara ritual masyarakat awan pemeluk agama Kapitayan seperti ritual dalam kepercayaan animisme. Berbeda dengan rohaniwan Kapitayan yang melakukan ritual sembahyang dengan ketentuan yang sedikit menyerupai gerakan Sholat. Selain itu, bila sudah dianggap saleh akan mendapatkan kekuatan gaib, boleh kita sebut karamah dalam Islam.

(Mengutip Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, halaman 13-15).

Agama Kapitayan secara sederhana dapat digambarkan sebagai suatu ajaran keyakinan yang memuja sembahan utama yang disebut Sanghyang Taya, yang bermakna Hampa, Kosong, Suwung, atau Awang-Uwung. Taya bermakna Yang Absolut, yang tidak bisa dipikir dan dibayang-bayangkan. Tidak bisa didekati dengan pancaindra. Orang jawa kuno mendefinisikan Sanghyang Taya dalam satu kalimat “tan kena kinaya ngapa” alias tidak bisa diapa-apakan keberadaan-Nya. Kata Awang-uwung bermakna ada tetapi tidak ada, tidak ada tetapi ada. Untuk itu, supaya bisa dikenal dan dapat disembah manusia, Sanghyang Taya digambarkan mempribadi dalam nama dan sifat Ilahiah yang disebut Tu atau To, yang bermakna “daya gaib “ bersifat adikodrati. (Inilah yang menurut saya konsep ke-Tuhan-an).

Tu atau To adalah tunggal dalam Zat. Satu pribadi. Tu lazim disebut dengan nama Sanghyang Tunggal. Dia memiliki dua sifat, yaitu kebaikan dan ketidakbaikan. Tu yang bersifat kebaikan disebut Tu-han yang sering disebut dengan nama Sanghyang Wenang. Sedang Tu yang bersifat ketidakbaikan disebut dengan nama Sang Manikmaya.

Demikianlah, Sanghyang Wenang dan Sanghyang Manikmaya pada hakikatnya adalah sifat saja dari Sanghyang Tunggal. Karena itu, baik Sanghyang Tunggal, Sanghyang Wenang, maupun Sanghyang Manikmaya pada dasarnya bersifat gaib, tidak dapat didekati dengan pancaindra maupun dengan akal pikiran. Sanghyang Tunggal hanya diketahui sifat-Nya saja. Oleh karena Sanghyang Tunggal dengan dua sifat gaib, untuk memujanya dibutuhkan sarana-sarana yang bisa didekati pancaindra dan alam pikiran manusia. Demikianlah, di dalam ajaran Kapitayan dikenal keyakinan yang menyatakan bahwa kekuatan gaib dari Sanghyang Taya yang mempribadi, yang disebut Tu atau To itu tersembunyi di dalam segala sesuatu yang yang memiliki nama berkait dengan kata Tu atau To seperti: wa-Tu (batu), Tu-gu, Tu-ngkup (bangunan suci), Tu-ban (air terjun), dan lain-lain.

Dalam bersembahyang menyembah Sanghyang Taya di sanggar itu, para rohaniwan Kapitayan mengikuti aturan tertentu: mula-mula, sang rohaniwan yang sembahyang melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap Tutu-k (lubang ceruk) dengan kedua tangan diangkat ke atas menghadirkan Sanghyang Taya di dalam Tutu-d (hati). Setelah merasa Sanghyang Taya bersemayam di hati, kedua tangan diturunkan dan didekapkan di dada tepat pada hati. Posisi ini disebut swa-dikep (memegang ke-aku-an diri pribadi). Proses Tu-lajeg ini dilakukan dalam tempo yang relatif lama. Setelah Tu-lajeg selesai, sembahyang dilanjutkan dengan posisi Tu-ngkul (membungkuk memandang ke bawah) yang juga dilakukan dalam tempo yang relatif lama. Lalu dilanjutkan lagi dengan posisi Tu-lumpak (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki). Yang terakhir, dilakukan posisi To-ndhem (bersujud seperti bayi dalam perut ibunya). Selama melakukan Tu-lajeg, Tu-ngkul, Tu-lumpak, dan To-ndhem dalam waktu satu jam lebih itu, rohaniwan Kapitayan dengan segenap perasaan berusaha menjaga keberlangsungan Keberadaan Sanghyang Taya (Yang Hampa) yang sudah disemayamkan di dalam Tutu-d (hati)
Sumber :

– Wikiped – Kumpulan Artikel

Catatan saya (Penulis):

 – Tulisan ini rasa penasaran saya atas apa yang terjadi sejak lama, khususnya benturan antara wahabi / salafy / nahdlatul ulama. Dan semakin penasaran setelah saya sematkan ketiga pokok diatas (Abangan – Kejawen & Kapitayan) hasilnya saya di maki dengan membabi buta, makian sangat menyakitkan dengan mengikutsertakan anak, ibu, alm. Bapak saya, alm Kakek saya dan fitnah saya hasil zina. Oleh karena itu jadilah Tulisan diatas.

– Jelas berbeda dengan syiah, dimana ahlu sunnah mengikuti madzab pada umumnya. Meskipun  para syi’i bernaung pada ormas islam pada umunya.

– Penulis mohon maaf, jika ada salah penulisan, harap maklumi.

20 Februari 2016 - Posted by | Dunia Islam | , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: