Gadneh's Blog

Syarat Beriman Saling Mencintai

Dunia.. oh Duniaa…

Dunia

Dunia memang sungguh menipu bagi kebanyakan manusia, keinginan akan harta, ketakutan akan miskin, syahwat terhadap wanita, kerakusan pada jabatan, perasaan hina karena status sosial, mengejar popularitas,  sering membuat kita lalai dalam mengingat Allah. Kesibukan akan pekerjaan di kantor, mengurusi usaha, sibuk urusan sekolah, jungkir balik demi karir, dan berbagai kegiatan keduniaan membuat kita seolah-olah tak punya waktu untuk belajar tentang agama. Mengapa? Mengapa? Mengapa? Padahal kita semua yang mengaku muslim tahu dan yakin bahwa kita suatu saat akan mati dan kemudian akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan selama di dunia. Mari luangkan waktu sejenak untuk mengingat akan hal ini. Pikirkan baik-baik, tanamkan dalam jiwa, dan ulangi sesering mungkin, agar menjadi pengingat kita akan negeri akhirat. Apa hakikat dunia sebenarnya?

Kata Rosulullah, hakikat dunia di sisi Allah lebih hina dari pada bangkai kambing yang telinganya cacat.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu, beliau bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammelewati pasar melalui sebagian jalan dari arah pemukiman, sementara orang-orang [para sahabat] menyertai beliau. Lalu beliau melewati bangkai seekor kambing yang telinganya cacat (berukuran kecil). Beliau pun mengambil kambing itu seraya memegang telinga nya. Kemudian beliau berkata,“Siapakah di antara kalian yang mau membelinya dengan harga satu dirham?”. Mereka menjawab, “Kami sama sekali tidak berminat untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”. Beliau kembali bertanya, “Atau mungkin kalian suka kalau ini gratis untuk kalian?”. Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat, karena telinganya kecil. Apalagi kambing itu sudah mati?” Beliau pun bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.” (HR. Muslim [2957])

Bayangkan, lebih hina dari bangkai kambing cacat, tapi kenapa banyak manusia berlomba-lomba gontok-gontokan mengejarnya? Setidak-tidaknya, ingatkan diri kita dan keluarga kita untuk berhenti mengejar dunia. Ingatkan diri kita dan keluarga kita betapa hina dan tidak berharganya dunia itu di sisi Allah. Cukup, berhentilah mengejar dunia, yang telah berlalu biarlah berlalu, mari kita atur masa depan yang lebih baik 🙂

Kadang kita merasa tidak terlalu mengejar dunia, tapi ternyata kita terlalu menikmati dunia. Kita tidak ngotot menumpuk harta, tapi terlalu terbuai oleh harta yang sudah kita punya, kita memang tidak berminat mendapatkan jabatan, tetapi terlalu terlena dengan jabatan yang ada, yang semuanya bermuara pada lalainya kita pada Agama. Agama seperti pelengkap saja dalam menikmati dunia, bukan yang utama. Hidup santai seperti ini juga bukanlah yang seharusnya kita jalani. Apa hakikat hidup di dunia ini?

Hakikat hidup di dunia adalah seperti layaknya seorang yang asing atau musafir.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda, “Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian).” Lalu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al- Bukhariy no.6416)

Seorang musafir tau bahwa dunia ini bukanlah tempat tinggalnya. Ia menyadari bahwa ia sedang dalam perjalanan untuk menuju suatu tujuan akhir. Untuk bisa sampai ke tujuan dengan selamat, maka dia harus tau jalan yang benar, dia harus punya cahaya penerang dan pengetahuan yang menunjukkannya akan keadaan jalan, di mana ada rintangan, di mana jalan pintas, mana-mana saja jalan yang salah, kalau dia bertemu rintangan apa yang harus dilakukan dan sebagainya, dan yang terakhir adalah dia harus bergerak, setelah dia tahu tujuan dan pengetahuan tentang bagaimana menuju tujuannya, maka dia tidak akan bisa sampai dengan hanya berdiam diri, melainkan harus bergerak dan berjalan. Demikianlah perumpamaan orang yang hidup di dunia. Tujuannya adalah akhirat, maka jalan yang benar adalah islam dengan cara berislam yang benar, bukan jalan-jalan berbagai kelompok yang menyimpang, cahaya penerangnya adalah ilmu agama, yang akan membuatnya mengerti bagaimana menempuh jalan yang benar, apa saja rintangan dalam beragama, apa saja kelompok-kelompok yang sesat dan menyimpang, mana-mana jalan yang membuatnya lebih dekat dan di ridhoi Allah, mana-mana perbuatan yang membuatnya semakin menjauh dari tujuan, dan yang terakhir dia harus beramal dengan ilmunya untuk mencapai tujuan tersebut. Demikianlah hakikat hidup di dunia, bukan untuk mengejar dunia, bukan juga untuk menikmatinya, karena dunia bukanlah tujuan kita.

Maka seharusnya setiap diri kita antusias dalam memikirkan akhirat, menimba ilmu agama, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, dan berusaha mendakwahkan agama ini. Memang setiap orang tidak harus menjadi ‘ulama, tapi tiap orang wajib untuk mempelajari agama ini dan mengamalkan sesuai kemampuannya. Mari menimba ilmu, ilmu akan menjagamu sementara harta engkau yang menjaganya.

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu akan menjagamu sedangkan kamulah yang akan menjaga harta. Ilmu itu hakim (yang memutuskan berbagai perkara) sedangkan harta adalah yang dihakimi. Telah mati para penyimpan harta dan tersisalah para pemilik ilmu, walaupun diri-diri mereka telah tiada akan tetapi pribadi-pribadi mereka tetap ada pada hati-hati manusia.”

Mari sadar dan ingatkan diri kita, bahwa dunia bukanlah tempat kita, jangan tertipu, jangan terlena, jangan berhasrat mengejarnya, jangan pula terlalu menikmati dan mencintainya, sesungguhnya kita sedang berjalan di suatu tempat yang sangat hina, di mana banyak ranjau berserakan, banyak jalan yang menyesatkan, banyak tipu muslihat yang menistakan, apa yang nikmat bisa jadi sebenarnya racun, dan apa yang pahit sebenarnya adalah obat. Pengetahuan akan hakikat hal-hal ini hanya didapat dari ilmu agama yang akan menerangi jalan untuk sampai pada tujuan. Mari berhenti menikmati dunia, karena ia sungguh hina.

1 November 2014 - Posted by | Dunia Islam | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: