Gadneh's Blog

Syarat Beriman Saling Mencintai

Indahnya Tawadhu’

Bukan sunnatullah jika seorang hamba merasa dirinya lebih baik, melihat dirinya lebih sempurna, lebih senang, lebih kaya, lebih putih, dirinya lebih dan lebih sehingga dia berpendapat bahwa dirinya betul-betul telah sempurna walaupun ternyata sarat dengan kekurangan.

Jika seseorang sudah merasa sempurna, terkadang dia lupa dengan saudaranya sesama insan yang punya perasaan sakit, senang, susah, enak, sedih seperti dirinya juga, dia hanya teringin bersama atau dipadukan dengan orang-orang yang menurutnya setaraf dengan derajat dirinya. Dia tidak ingin menerima orang-orang yang kurang sempurna atau lebih rendah derajatnya untuk dijadikan sahabat atau saudaranya, seraya memandang rendah serta remeh teradap orang-orang yang ditakdirkan hidup berkekurangan. Jika sudah demikian adanya, maka boleh dikatakan seorang yang bersikap demikian dikatakan sombong ataupun takabbur.

Kesombongan merupakan sikap yang dibenci tidak hanya dibenci oleh Allah swt dan rasul Nya saja, tetapi kesombongan merupakan satu sikap yang dibenci oleh setiap makhluk. Para malaikat, manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan kalau mereka ditakdirkan dapat berbicara tentu akan mengutuk ataupun menasehati orang-orang yang sombong itu. Dan Allah swt sendiri didalam sebuah hadis telah mengancam mereka yang bersikap sombong dengan mencampakkan muka mereka kedalam neraka Jahannam karena pada hakikatnya mereka telah merampas selendang kebesaran (kesombongan) Allah swt karena kesombongan itu hanya wajar untuk dimiliki oleh yang Maha Sempurna saja, Dialah Allah swt.

Sudah banyak contoh yang disampaikan didalam al Quran akibat bersikap sombong ini, sebagai ketua kesombongan itu ialah Iblis laknatullah alaihi, Raja Namrud nabi Ibrahim as, Fir’aun nabi Musa as, Hamman nabi Musa as, Qarun nabi Musa as, Yahudi nabi Musa as, Yahudi nabi Isa as, Abu Lahab nabi Muhammad saw, Yahudi nabi Muhammad saw, Yahudi dan Nasrani akhir zaman, kaum ‘Aad nabi Hud as, kaum Tsamud nabi Sholeh as, kaum Madyan nabi Syu’aib as, Inggris sudah berakhir, Perancis sudah berakhir, Jerman sudah berakhir, Uni Sovyet sudah berkahir, Amerika menghitung hari insya Allah.

Sebagaimana kita juga telah membaca cerita-cerita rakyat yang mengutuk orang-orang yang bersikap sombong. Cerita Malin Kundang dari Sumatera Barat Indonesia dikutut menjadi batu, Si Tanggang dari Malaysia dikutuk menjadi burung.

Tidak ada dari mereka yang mendapatkan kebahagiaan bahkan sebaliknya mereka mendapatkan kehancuran dan kebinasan serta kehinaan di dunia dan di akherat.

Sikap tawadhu’ merupakan sikap yang indah dipandang indah pula dirasa, ia merupakan sikap fitrah manusia, fitrah itu sentiasa menyukai setiap kebaikan, tutur kata yang baik, sikap lemah lembut, kasih sayang, hormat menghormati, jujur, ikhlas dan segala perkara yang baik dalam diri seorang hamba adalah fitrah dan semua makhluk menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan diantaranya tawadhu’.

Untuk meningkatkan tendensi tawadhu’ didalam diri mari kita merenung sejenak permisalan berikut:

1. Hendaklah setiap kita memahami dari apa kita diciptakan, untuk apa kita diciptakan, dan kemana akhir perjalanan penciptaan.

2. Hendaklah kita banyak-banyak mengingat kematian.

3. Pernahkah kita melihat bagaimana saat makanan dimasukkan kemulut bayi mungil yang belum bisa berbuat apa-apa? Tentu, saat melihat bayi makan makanan akan terbit dihati kita rasa kasih sayang, gemes dan teringin juga menyuapkan makanan kedalam mulut bayi itu seraya memeluknya.

4. Pernahkah kita melihat bagaimana seorang tua renta yang sudah tidak kuat berjalan dengan susah payah memasukkan makanan kedalam mulutnya dengan tangannya yang sentiasa gemetaran? Tentu, saat melihat kejadian itu ada rasa hiba dan sedih didalam hati kita kemudian terbit keinginan untuk bantu menyuapkan makanan itu kedalam mulut orang tua renta itu dengan penuh kasih sayang.

5. Pernahkah kita melihat mereka yang kurang bernasib baik mengais sisa-sisa makanan ditempat-tempat sampah? Tentulah kita terfikir andaikan saja saya sekarang ini jadi orang kaya.

6. Pernahkah kita melihat seorang pemulung yang sudah bungkuk dengan pakaian yang seadanya dan sudah compang-camping mengais-ngais apa yang kira-kira dapat dijual demi sesuap nasi yang halal masuk kedalam perutnya yang sedang kelaparan gak ketulungan? Tentulah kita terfikir, andaikan saja saya dapat membantu.

7. Pernahkah kita melihat mereka yang kecewa karena ditolak lamaran kerjanya, manakala dia betul-betul mengharapkan pekerjaan itu demi sesuap nasi untuk anak isterinya? Tentulah kita merasa hiba.

8. Pernahkah kita melihat mereka yang ditolak lamaran nikahnya, padahal dia berazam dengan bersungguh hati untuk menjadi seorang yang lebih sempurna agama dan akhlaknya? Tentulah kita akan mengatakan dimanakah letak “teposelero”.

9. Pernahkah kita melihat anak kecil menangis dengan ingusnya meleleh bercampur air matanya karena menahan lapar atau demam didalam gendongan ibunya yang kebingungan? Tentulah kita akan menanyakan ibu itu apa yang bisa dibantu.

10. Pernahkah kita melihat orang tua renta yang sudah kehilangan keluarga hidup dengan kebimbangan ditengah-tengah congkaknya ibukota? Tentulah kita mambayangkan bagaimana kalau itu adalah aku.

11. Kita tentu sudah pernah melihat semua kejadian diatas tadi, mengapa harus menjadi sombong…..?????

Maka saya dengan demikian mengatakan SELAMAT kepada anda yang hidup dalam kemiskinan, karena dengan demikian jika anda suatu saat nanti menjadi orang kaya, maka anda masih ingat derita lapar dan hinaan, dan saya ucapkan SELAMAT kepada anda yang pernah ditolak lamaran kerja dan nikahnya, karena anda nanti akan lebih bijak jika suatu saat nanti anda menjadi seorang Boss atau seorang ayah yang memiliki anak gadis, dan saya mengucapkan SELAMAT kepada anda yang memiliki anak yang sakit-sakitan, karena dengan demikian anda memahami derita orang tua tidak mampu membeli obat untuk anak-anaknya yang sakit, dan saya mengucapkan SELAMAT kepada anda yang memiliki anak-anak yang kurus kering kurang vitamin, karena jika anda berkemampuan untuk membeli susu maka tidak lupa derita mereka yang kesusahan. Dan saya ucapakn SELAMAT jika anda dapat merengungi PERMISALAN diatas dengan penuh keinsafan, karena dengan demikian insya Allah anda masih memiliki hati yang indah. Tidakkah kita mengambil pelajaran…?

Ya Allah berilah kami hati-hati yang benar dan ikhlas.

Wassalamualaikum wR wB

Disampaikan oleh : Masyhuri Mas’ud Master of Quran Sunnah of  IIUMalaysia

2 Oktober 2010 - Posted by | Dunia Islam

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: