Gadneh's Blog

Syarat Beriman Saling Mencintai

Liga Arab Tak Peduli Palestina?

Oh.. Palestina

Oh.. Palestina

Sudah sepekan Israel menarik pasukannya dari Jalur Gaza. Wilayah itu mulai tenang. Tapi, banyak tanda tanya tersisa. Siapa bertanggung jawab di Gaza? Kenapa Liga Arab cenderung diam? Tak mudah memahami esensi konflik Palestina-Israel.

Ada kontradiksi dalam perang Palestina dan Israel. Dikatakan bermusuhan, mereka pernah berdamai. Lewat pertemuan resmi Pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Yasser Arafat dan Perdana Menteri Israel, Yitzhak Rabin, kesepakatan damai ditandatangani pada 1993 di Gedung Putih, Washington. Presiden AS, Bill Clinton, ikut menyaksikannya.

Sayang, Arafat dan Rabin telah meninggal dunia. Mereka tidak bisa lagi diminta, ditagih, atau ditanya: mengapa yang mereka sepakati akhirnya tidak dihormati oleh pejuang-pejuang Hamas (Palestina) dan tentara Israel?

Jika AS selalu disalahkan sebagai pihak yang tidak membantu – sebab selalu memihak kepada Israel, lalu mengapa tidak dicari negara netral yang lebih bisa diterima semua pihak?

Di sinilah muncul pertanyaan soal peran Liga Arab. Jika saja Liga Arab sungguh peduli terhadap Palestina dan menentang pendudukan Israel di tanah Palestina, mengapa tak mengirimkan pasukan, ikut menyerbu dan mengusir Israel? Israel dianggap musuh abadi bangsa Arab, tapi mengapa yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel terus bertambah?

Keanggotaan Mesir di Liga Arab pernah dibekukan gara-gara pemimpinnya Anwar Sadat berdamai dengan PM Israel Menachem Begin di Camp David tahun 1978. Tapi, pengucilan Mesir tidak menjadikan Liga Arab lebih solid. Mesir akhirnya diterima kembali sebagai anggota dan hubungan diplomatiknya dengan Israel tetap normal.

Sikap Liga Arab terhadap Israel dan Palestina, sebetulnya tidak jelas ataupun tidak punya sikap sama sekali. Kalaupun ada, sikap mereka cenderung terlihat sebagai kepentingan sesaat.

Sudah lebih 100 resolusi yang dikeluarkan Dewan Keamanan PBB tentang sengketa Palestina dan Israel. Tapi, semuanya tidak efektif. Jika bukan Israel yang mengangkanginya, AS yang tidak peduli. Lantas mengapa pula peran PBB sebagai juru damai masih terus diharapkan?

Pasukan PBB dibentuk untuk mencegah tentara Israel menyerbu Lebanon Selatan. Tapi ketika Israel menyerang, Pasukan PBB hanya bisa melakukan investigasi. Hasil investigasipun tidak pernah diumumkan.

Jalur diplomasi terbukti tidak efektif. Tapi yang ditugaskan melakukan perdamaian lewat diplomasi tak pernah dianggap gagal. Lantas siapa yang salah?

Dalam berbagai liputan dan komentar, serangan Israel ke jalur Gaza disebutkan sebagai serangan terhadap Palestina. Tapi ada juga yang mengaburkannya dengan menyebut sebagai serangan terhadap kelompok Hamas (saja) di wilayah Palestina.

Palestina memang dikuasai oleh dua faksi besar: Hamas dan Al-Fatah. Selama lebih dari dua dekade, Palestina dikontrol Al-Fatah pimpinan Arafat. Baru awal tahun 2006, berdasarkan hasil Pemilu setempat, Hamas menggeser kekuasaan Al Fatah.

Perbedaan utama antara Hamas dan Al Fatah terletak pada soal status dan eksistensi Israel. Fatah mangakui Israel, karena itu ada pertemuan dan dialog antara Presiden Mahmoud Abbas (Palestina) dengan PM Israel.

Hamas tidak mengakui sama sekali Israel. Sehingga tidak pernah terjadi pertemuan atau dialog antara tokoh Hamas dan Israel. Lantas apakah ini bisa disebut ada kesamaan sikap di antara sesama bangsa Palestina?

Al Fatah berkuasa di Tepi Barat, sementara Hamas berkuasa di Jalur Gaza. Lokasi Tepi Barat dan Jalur Gaza berjarak cukup jauh. Jika Tepi Barat berada di sebelah timur Israel yang dekat dengan perbatasan ke Yordania di bagian timur, maka Jalur Gaza berada di bagian selatan Israel yang berbatasan dengan Mesir. Wilayah Israel dan Gaza, sama-sama menghadap Laut Mediteranea, sementara Tepi Barat jauh dari laut terbuka tersebut.

Timbul pertanyaan, mengapa Palestina yang masih berjuang mendapatkan tanah-tanahnya yang diduduki Israel, tidak bisa menetapkan satu wilayah bersama?

Serangan Israel ke Palestina yang dimulai 27 Desember 2008 lalu, diarahkan ke markas Hamas. Sementara markas Al Fatah tidak mengalami hal serupa. Namun fakta ini seringkali tidak dijadikan bahan analisa.

Selama Israel menyerang Hamas, ramai dipersoalkan lebih dari 1.000 rakyat sipil Palestina tewas. Yang cedera 5.000-an orang. Kerusakan infrastruktur di Jalur Gaza mencapai triliunan rupiah.

Namun setelah Israel melakukan gencatan senjata dengan menarik semua pasukannya dari daerah Jalur Gaza, serta merta ada kelompok dalam Hamas yang mengklaim telah memenangkan peperangannya dengan Israel.

Lalu dimana letak alasan Hamas dan Palestina berstatus sebagai pihak yang perlu dibantu? Bukankah bantuan hanya perlu diberikan kepada pihak yang kalah?

Jadi cukup membingungkan. Untuk memahami esensi dari konflik Palestina-Israel – terutama setelah pecah perang selama 22 hari, tidak gampang

28 Januari 2009 - Posted by | Dunia Islam | ,

1 Komentar »

  1. Memang susah mendamaikan Suadara se-Ayah (Ibrahim as) tapi beda Ibu (Hajar & Sarah) kalau sudah “berebutan tanah warisan”.
    Sesama Bangsa Arab saling curiga, dengan Bangsa Israel yang saudara tiri tidak pernah damai. Kapan kedua Suku Bangsa itu mau hidup rukun dan damai sebagai saudara seayah meski berbeda dalam hal berideologi agama. Lakum dinukum waliyadin aja. Perang untuk warisan wilayah tidak baik.
    Sampai kapan sejarah saling menzolimi akan dipertahankan?!
    Abu Rafa di http://forum-iqro.blogspot.com

    Suka

    Komentar oleh Abu Rafa | 28 Januari 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: