Gadneh's Blog

Syarat Beriman Saling Mencintai

FAKTA WALI SONGO !!!

Bukti Wali Songo !Itu Turki Utsmani

Oleh Lukman Firdaus pada 13 January 2015
Bisa dikatakan tak akan ada Islam di Indonesia tanpa peran khilafah. Orang sering mengatakan bahwa Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa disebarkan oleh Walisongo. Tapi tak banyak orang tahu, siapa sebenarnya Walisongo itu? Dari mana mereka berasal? Tidak mungkin to mereka tiba-tiba ada, seolah turun dari langit?
Dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa.
Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para dai atau ulama yang diutus khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 6 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400 an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten. Yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina.
Lalu ada Syekh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestina. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus – berasal dari kata al Quds (Jerusalem).
Dari para wali itulah kemudian Islam menyebar ke mana-mana hingga seperti yang kita lihat sekarang. Oleh karena itu, sungguh aneh kalau ada dari umat Islam sekarang yang menolak khilafah. Itu sama artinya ia menolak sejarahnya sendiri, padahal nenek moyangnya mengenal Islam tak lain dari para ulama yang diutus oleh para khalifah.
Islam masuk ke Indonesia pada abad 7M (abad 1H), jauh sebelum penjajah datang. Islam terus berkembang dan mempengaruhi situasi politik ketika itu. Berdirilah kesultanan-kesultanan Islam seperti di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak (didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M), Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang; Ternate, Tidore dan Bacan di Maluku (Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440); Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai di Kalimantan.
Adapun kesultanan di Jawa antara lain: kesultanan Demak, Pajang, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Sementara di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima. Setelah Islam berkembang dan menjelma menjadi sebuah institusi maka hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik dalam kesultanan-kesultanan tersebut.
PERIODE DAKWAH WALI SONGO
Kita sudah mengetahui bahwa mereka adalah Maulana Malik Ibrahim ahli tata pemerintahan negara dari Turki, Maulana Ishaq dari Samarqand yang dikenal dengan nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari Palestina, Maulana Aliyuddin dari Palestina, dan Syekh Subakir dari Persia. Sebelum ke tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai. Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah penguasa Samudra Pasai antara tahun 1349-1406 M yang mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.
Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati).
Mulai tahun 1463M makin banyak da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan; Raden Said (Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang); dan Raden Qasim Dua (Sunan Drajad) putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit.
Banyaknya gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian yang berarti Tuanku di kalangan para wali, menunjukkan bahwa dakwah Islam sudah terbina dengan subur di kalangan elit penguasa Kerajaan Majapahit. Sehingga terbentuknya sebuah kesultanan tinggal tunggu waktu.

Hubungan tersebut juga nampak antara Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah. Bernard Lewis menyebutkan bahwa pada tahun 1563M, penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istambul untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan bahwa sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia masuk agama Islam jika kekhalifahan Utsmaniyah mau menolong mereka.
Saat itu kekhalifahan Utsmaniyah sedang disibukkan dengan berbagai masalah yang mendesak, yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria, dan kematian Sultan Sulaiman Agung. Setelah tertunda selama dua bulan, mereka akhirnya membentuk sebuah armada yang terdiri dari 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya yang mengangkut persenjataan dan persediaan untuk membantu masyarakat Aceh yang terkepung.
Namun, sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Banyak dari kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan dan memperluas kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Ada satu atau dua kapal yang tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut selain membawa pembuat senjata, penembak, dan teknisi juga membawa senjata dan peralatan perang lainnya, yang langsung digunakan oleh penguasa setempat untuk mengusir Portugis. Peristiwa ini dapat diketahui dalam berbagai arsip dokumen negara Turki.
Hubungan ini nampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan diantaranya Abdul Qadir dari Kesultanan Banten misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu. Demikian pula Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar Sultan dari Syarif Mekah tahun 1051 H (1641 M ) dengan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. Pada tahun 1638 M, sultan Abdul Kadir Banten berhasil mengirim utusan membawa misi menghadap syarif Zaid di Mekah.
Hasil misi ke Mekah ini sangat sukses, sehingga dapat dikatakan kesultanan Banten sejak awal memang meganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari Syarif mekah.
Hubungan erat ini nampak juga dalam bantuan militer yang diberikan oleh Khilafah Islamiyah. Dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer berupa senjata disertai instruktur yang mengajari cara pemakaiannya dari Khilafah Turki Utsmani (1300-1922).
Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.
Tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke Khilafah Turki Utsmani untuk meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan orang Turki beserta sejumlah besar alat tembak (meriam) dan amunisi. Tahun 1567, Sultan Salim II mengirim sebuah armada ke Sumatera, meski armada itu lalu dialihkan ke Yaman. Bahkan Snouck Hourgroye menyatakan, “Di Kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslimin di Indonesia.” Bahkan pada akhir abad 20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan al-Quran atas nama Sultan Turki.
Di istambul juga dicetak tafsir al-Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili yang pada halaman depannya tertera “dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam”. Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki.
Pada masa itu, yang disebut-sebut Sultan Turki tidak lain adalah Khalifah, pemimpin Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Selain itu, Snouck Hurgrounye sebagaimana dikutip oleh Deliar Noer mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, terutama mereka yang tinggal di pelosok-pelosok yang jauh di penjuru tanah air, melihat stambol (Istambul, kedudukan Khalifah Usmaniyah) masih senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang mukmin yang kekuasaannya mungkin agaknya untuk sementara berkurang oleh adanya kekuasaan orang-orang kafir, tetapi masih dan tetap [dipandang] sebagai raja dari segala raja di dunia. Mereka juga berpikir bahwa “sultan-sultan yang belum beragama mesti tunduk dan memberikan penghormatannya kepada khalifah.” Demikianlah, dapat dikatakan bahwa Islam berkembang di Indonesia dengan adanya hubungan dengan Khilafah Turki Utsmani.
Dengan demikian, keterkaitan Nusantara sebagai bagian dari Khilafah, baik saat Khilafah Abbasiyah Mesir dan Khilafah Utsmaniyah telah nampak jelas pada pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra-Pasai Darussalam oleh Utusan Syarif Mekkah, dan pengangkatan Sultan Abdul Kadir dari Kesultanan Banten dan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram oleh Syarif Mekkah.
Dengan mengacu pada format sistem kehilafahan saat itu, Syarif Mekkah adalah Gubernur (wali) pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk kawasan Hijaz. Jadi, wali yang berkedudukan di Mekkah bukan semata penganugerahan gelar melainkan pengukuhannya sebagai sultan. Sebab, sultan artinya penguasa. Karenanya, penganugerahan gelar sultan oleh wali lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam. Sementara itu, kelihatan Aceh memiliki hubungan langsung dengan pusat khilafah Utsmaniyah di Turki.
KESIMPULAN
Jumlah dai yang diutus ini tidak hanya sembilan (Songo). Bahkan ada 6 angkatan yang dikirimkan, masing-masing jumlanya sekitar sembilan orang. (Versi lain mengatakan 7 bahkan 10 angkatan karena dilanjutkan oleh anak / keturunannya)
Para Wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki. Beliau ini ahli politik & irigasi, wafat di Gresik.

– Maulana Malik Ibrahim ini menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara.
– Seangkatan dengan beliau ada 2 wali dari Palestina yg berdakwah di Banten; salah satunya Maulana Hasanudin, beliau kakek Sultan Ageng Tirtayasa.
– Juga Sultan Aliyudin, beliau dari Palestina dan tinggal di Banten. Jadi masyarakat Banten punya hubungan darah & ideologi dg Palestina.
– Juga Syaikh Ja’far Shadiq & Syarif Hidayatullah; dikenal disini sebagai Sunan Kudus & Sunan Gunung Jati; mereka berdua dari Palestina.
– Maka jangan heran, Sunan Kudus mendirikan Kota dengan nama Kudus, mengambil nama Al-Quds (Jerusalem) & Masjid al-Aqsha di dalamnya.
(Sumber Muhammad Jazir, seorang budayawan & sejarawan Jawa , Pak Muhammad Jazir ini juga penasehat Sultan Hamengkubuwono X).
Adapun menurut Berita yang tertulis di dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi.
Sultan Muhammad I itu membentuk tim beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa dimulai pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara dari Turki.
Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.

2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.

4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.

5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.

6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.

7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.

8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.

9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.
Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan

2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir

4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina

7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina

8. Maulana ‘Aliyuddin, asal Palestina

9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.
Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan

2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir

4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina

7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim

8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim

9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan

2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim

3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak

4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina

7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim

8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim

9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim

2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah

3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak

4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran

7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim

8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim

9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim

2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah

3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak

4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang

7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim

8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim

9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wallahua’lam Bishowab

2 Juni 2017 Posted by | Dunia Islam | Tinggalkan komentar

​Kontrak Politik Radikal FPI VS Anies-Sandi

Kontrak Politik Radikal FPI dengan  Anies-Sandi
Oleh : Hersubeno Arief

(Konsultan Media dan Politik)
Front Pembela Islam (FPI) kembali bikin heboh. Selain kasus hukum yang tengah membelit Imam Besar Habib Rizieq Shihab, yang tengah ramai mendapat sorotan adanya tuduhan anggota FPI mengintimidasi seorang dokter wanita di Solok, Sumatera Barat.
Benarkah FPI kelompok radikal, garis keras yang kerjanya hanya bikin rusuh dan onar?
Keberadaan kelompok-kelompok semacam FPI inilah yang ditengarai menjadikan media asing terutama negara-negara Barat menilai kemenangan Anies-Sandi pada Pilkada DKI sebagai kemenangan “kelompok radikal”. Kemenangan “kelompok intoleran.”
Maklumlah bila kita bicara FPI yang terbayang adalah sekelompok orang berseragam putih, sebagian memakai gamis dan bersorban, sedang menghancurkan beberapa lokasi hiburan malam di beberapa kota, terutama kota besar seperti Jakarta.
Citra itu melekat sangat kuat kepada FPI. Kalau dalam bahasa anak gaul ada satu kata yang bisa menggambarkan FPI. Nyebelin Rese.
Tidak mengherankan ketika masa kampanye Pilkada DKI putaran pertama Anies R Baswedan  berkunjung ke markas FPI di Petamburan,  banyak yang terbelalak dan  menjadi sangat kecewa.
Anies yang selama ini dikenal sebagai seorang muslim modern, metropolis, moderat bahkan disebut-sebut liberal kok bisa-bisanya hanya karena kepentingan untuk mendongkrak elektabilitas, bertemu dengan Habib Rizieq  dan kemudian bahkan menjalin aliansi politik dengan FPI.
Banyak yang memperkirakan langkah Anies akan membuat elektabilitasnya makin nyungsep.
Posisi pasangan Anies-Sandi yang dalam berbagai survei selalu berada di bawah Agus-Silvy dan Ahok-Djarot bakal tambah tercecer.
Maklumlah bagi yang tidak suka FPI apalagi Habib Rizieq, keduanya sudah menjadi musuh nomor 1. The number one public enemies.
 Tak lama kemudian muncul  isu bahwa Anies-Sandi telah menandatangani kontrak politik dengan FPI. Mereka akan  memberlakukan syariat Islam di Jakarta bila memenangkan pilkada.
Lantas seperti apa kontrak politik FPI dengan Anies-Sandi? Kan tidak mungkin FPI mendukung Anies-Sandi tanpa konsesi apapun.
 Dalam politik dikenal istilah no free lunch. Tidak ada makan siang yang gratis.
Kontrak politik radikal?

Ternyata benar ada kontrak politik FPI dengan Anies-Sandi. Jadi sangat benar istilah “tidak ada makan siang gratis” dalam politik.

Seperti apa bunyi kontrak politiknya? Dokumen FPI tersebut terkesan disimpan cukup rapat. Ada setidaknya 40 kontrak politik Anies-Sandi dengan berbagai elemen masyarakat Jakarta, beberapa diantaranya sudah bocor ke media.
Ternyata ada 10 poin kontrak politik yang ditandatangani oleh Imam FPI DKI Jakarta Habib Muchsin bin Zaid Al-Attas dengan Anies-Sandi. 
Cakupan kontrak politik tersebut sangat luas. Mulai dari soal perlindungan warga terhadap penggusuran sampai penghentian reklamasi Teluk Jakarta. 
Namun dari ke-10 kontrak tersebut yang sangat menarik adalah poin kedua dan keempat. 

Pada poin kedua disebutkan “Bahwa, apabila kelak terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, akan mengutamakan kepentingan rakyat dalam arti tidak membeda-bedakan agama, suku, etnis, golongan, ras serta merangkul semua kelompok dan elemen masyarakat yang majemuk dan heterogen.”
Pada poin ke-empat

” Bahwa apabila kelak terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, akan melindungi warga Jakarta serta menjaga kedaulatan bangsa dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sementara pada poin keenam sangat khas FPI berkaitan dengan masalah moral, tapi lagi-lagi dikaitkan dengan perlindungan terhadap pelaksanaan ibadah agama lain dan kerukunan beragama.
 “Bahwa apabila kelak terpilih Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, wajib mengatasi segala bentuk kejahatan moral, korupsi, narkoba dan memberantas tindak pidana asusila pornografi/pornoaksi serta memberikan rasa aman dalam beribadah kepada semua warga sesuai agama dan keyakinan yang dianutnya dalam upaya meningkatkan kualitas kerukunan umat beragama.”
Poin-poin lain yang diajukan FPI berkaitan dengan fasilitas publik seperti mengatasi kemacetan, banjir,  penataan perumahan kumuh, tidak melakukan penggusuran semena-mena, peningkatan kesejahteraan tenaga kerja dan para pendidik.
 Tidak ada satupun poin yang berkaitan dengan pemberlakukan Syariat Islam apalagi mengistimewakan keberadaan FPI.
Semua poin kontrak politik yang diajukan “gak FPI banget.” Ini benar-benar sebuah kontrak politik yang radikal. 
Kemana itu hilangnya wajah garang FPI. Kemana  aksi-aksi yang disebut banyak pihak sebagai bentuk radikalisme dan intoleransi. Kemana aksi-aksi yang kalau menggunakan istilah beberapa kalangan yang mendadak NKRI sebagai aksi yang anti NKRI dan tidak bhineka itu? 
Mengapa FPI tidak memanfaatkan kesempatan mumpung ada pasangan calon gubernur-wakil gubernur  yang bersedia menandatangani kontrak politik?
 Biasanya kan kalau kandidat sedang membutuhkan dukungan, apa saja kontrak politik akan ditanda tangani, yang penting  mendapat tambahan suara. Apalagi saat itu posisi Anies-Sandi juga tengah kritis.

 

Sering disalahpahami
Keberadaan FPI memang sering disalahpahami. FPI juga salah satu contoh korban sempurna dari proses framing dan labeling yang banyak dilakukan oleh media dan kelompok-kelompok yang alergi dengan kekuatan Islam.
Penjelasan ulama kondang Abdullah Gymnastiar atau lebih dikenal sebagai Aa Gym bisa membantu untuk memahami posisi figur seperti Habib Rizieq dan FPI. Sebagai muslim diajarkan agar menjalankan agama secara paripurna, kita harus melaksanakan “Amar ma’ruf, nahi munkar.”  Mengajak berbuat baik dan mencegah melakukan perbuatan munkar, mencegah perbuatan yang tidak baik.
Kebanyakan ulama  mengambil peran pada amar ma’ruf saja. Sementara yang melakukan nahi munkar, sangat jarang. Ada yang bertugas menyemai dan menanam benih, tapi ada juga yang bagiannya cabut rumput dan menyemprot hama. Barulah lengkap dan tanaman bisa tumbuh subur dan sehat.
Habib Rizieq dan FPI berani mengambil peran yang jarang mau dilakoni banyak orang. Dia jadi tukang cabut rumput dan penyemprot hama. Peran itu sangat berat. Peran itu membuat dia banyak dimusuhi.
Musuhnya mulai dari para pemilik hiburan malam, pengedar dan pengguna  narkoba, minuman keras, para pelaku dan konsumen prostitusi,  dan berbagai  kegiatan negatif lainnya. Musuhnya adalah oknum aparat negara yang ikut menikmati berbagai aktivitas yang menyimpang tersebut.
Lho bukannya semua itu tugas aparat hukum? Bukankah negara kita negara hukum. Tidak boleh main hakim sendiri?
Bagi Anda generasi lama atau penggemar film-film Hollywood  lawas pasti kenal dengan tokoh Django (1966) yang diperankan oleh Franco Nero. Django adalah jagoan pembela kebenaran yang beraksi manakala kedzoliman merajalela dan aparat penegak hukum tidak bertindak atau malah menjadi bagian dari sindikat kejahatan. 
Prototipe semacam itu juga banyak tampil di film-film Hollywood dalam genre film cowboy. Mereka hanya turun ketika situasi _law and order_ tidak berjalan.
 Ketika semua berjalan baik, mereka akan meninggalkan kota dan kembali ke habitat asalnya. Habitat jalan dakwah. Sebuah jalan sunyi yang jauh dari hiruk pikuk dunia hiburan malam.
“Ane janji kagak bakal demo apalagi ngancur-ngancurin tempat hiburan malam kalau gubernur dan aparat bekerja dengan bener,” ujar seorang tokoh FPI.
Musuh FPI dan Habib Rizieq  bertambah banyak karena mereka kemudian terlibat dalam Pilkada DKI dalam ikhtiar mendukung figur gubernur DKI yang bisa menjalankan nahi munkar. Mereka menjadi sosok yang membahayakan kepentingan politik kelompok-kelompok tertentu yang sering disebut sebagai oligarki.
Habib Rizieq menjadi sosok yang membahayakan kekuasaan ketika tampil sebagai pimpinan dan figur sentral di Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI.
Tugas kemanusiaan dan bencana
Di luar aksi-aksi nahi munkar, FPI sesungguhnya banyak terlibat dalam aksi kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Tapi sayangnya hal itu tidak cukup menarik dan sexy bagi media, apalagi mereka yang sejak awal sudah punya frame dan label tersendiri.
Masih ingat kan ketika Laskar FPI mengawal sepasang pengantin yang akan menikah di Katedral Jakarta saat berlangsung Aksi Bela Islam 212?  Kelompok radikal dan intoleran kok mau-maunya mengawal pengantin non-muslim yang mau menikah di Katedral.
Di berbagai bencana alam, pasukan FPI juga selalu hadir paling awal. Yang paling fenomenal adalah ketika berlangsung bencana tsunami di Aceh Desember 2004. Habib Rizieq dan pasukan FPI bahu membahu membahu bersama TNI melakukan evakuasi  ribuan jenazah.
Tanpa bermaksud menafikan peran begitu banyak relawan dari berbagai elemen masyarakat dan dari berbagai negara, FPI termasuk yang berdiri di garda terdepan dan paling banyak melakukan evakuasi.
FPI termasuk Habib Rizieq berbulan-bulan bertahan di Aceh dan bermalam di Taman Makam Pahlawan Kampung Ateuk Pahlawan, Banda Aceh.
 Wartawan sering menemui Habib Rizieq yang berteduh, tidur, makan minum dan beribadah di bawah sebuah bangunan makam yang kebetulan bentuknya agak besar. Majalah Tempo pernah membuat reportase cukup menarik tentang kiprah FPI pada saat tsunami Aceh.
Adu domba kasus dr Fiera
Bagaimana dengan kasus intimidasi terhadap dr Fiera Lovita? Kasus ini sekarang sedang sangat hit dan ramai diberitakan media, terutama medsos. 
Dokter yang bertugas di Solok, Sumbar ini sempat membuat status di medsos yang dinilai  menghina Habib Rizieq berkaitan dengan kasus chating dengan Firza. FPI Sumbar sempat berang dengan aksi dokter tersebut. Namun dengan mediasi kepolisian masalahnya bisa diselesaikan dan dr Fiera sudah membuat pernyataan meminta maaf. _The problem is solved._
Tiba-tiba kasus itu malah meledak. Ada yang menggorengnya. Beberapa organisasi mengecamnya sebagai bentuk intimidasi dan intoleransi. Mabes Polri  menyebut ada yang sedang mencoba mengadu domba.

 Berdasarkan informasi dari Kapolda Sumbar Irjen Pol Fakhrizal tidak ada intimidasi.
Bantahan serupa juga disampaikan oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Menurutnya Bumi “Urang Awak” itu juga aman-aman saja.
Para “pembuat badai” ini rupanya melihat kasus dr Fiera sebagai sebuah isu yang sexy yang melibatkan FPI. Apalagi dr Fiera juga seorang muslimah yang berjilbab. Momentumnya juga sangat pas dengan penetapan Habib Rizieq sebagai tersangka. 
Agar lebih dramatis, mereka sampai turun tangan melakukan “evakuasi” dr Fiera dan kedua anaknya ke Jakarta.
Peran para “pembuat badai” ini mengingatkan kita pada sebuah syair lagu  gubahan penyair Taufik Ismail, yang dipopulerkan group band God Bless, Panggung Sandiwara. //Ada peran wajar/ dan ada peran yang berpura-pura//Mengapa kita bersandiwara?//end

1 Juni 2017 Posted by | Dunia Islam | Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: